• Selasa, 6 Desember 2022

YLBHI Se Indonesia : Negara Harus Bertanggung Jawab Atas Jatuhnya Korban Jiwa Dalam Tragedi Stadion Kanjuruhan

- Minggu, 2 Oktober 2022 | 14:45 WIB
Awal terjadinya kerusuhan Stadion Kanjuruhan. (Foto : Tangkapan Layar)
Awal terjadinya kerusuhan Stadion Kanjuruhan. (Foto : Tangkapan Layar)

HARMASNEWS - Tragedi Stadion Kanjuruhan Malang membuat semua pihak merasa prihatin, seperti halnya YLBHI dan LBH Kantor Seluruh Indonesia.

Dalam rilis yang diterima Harmasnews, Minggu, 2 Oktober 2022 Kadiv Advokasi LBH Surabaya, Habibus Shalihin melalui pesan whatsapp telah mengeluarkan seruan agar negara bertanggungjawab atas jatuhnya korban jiwa dalam tragedi Stadion Kanjuruhan.

Dalam siaran pers dengan narahubung Muhammad Isnur dari YLBHI, dan Habibus Shalihin Kadiv Advokasi LBH Surabaya, serta Daniel Koordinator LBH Surabaya Pos Malang menyebutkan, "Kami menyampaikan bela sungkawa sedalam-dalamnya atas jatuhnya korban jiwa dan luka-luka dalam tragedi yang terjadi di Stadion Kanjuruhan".

Peristiwa terjadi setelah selesainya laga pertandingan sepakbola Arema vs Persebaya pada tanggal 1 Oktober 2022. Kami mendapat laporan bahwa sampai dengan Pukul 07.30 WIB, telah ada 153 korban jiwa dari kejadian ini.

Sejak awal panitia mengkhawatirkan akan pertandingan ini dan meminta kepada Liga (LIB) agar pertandingan dapat diselenggarakan sore hari untuk meminimalisir resiko.

Tetapi sayangnya pihak Liga menolak permintaan tersebut dan tetap menyelenggarakan pertandingan pada malam hari.

Pertandingan berjalan lancar hingga selesai, hingga kemudian kerusuhan terjadi setelah pertandingan dimana terdapat supporter memasuki lapangan dan kemudian ditindak oleh aparat.

Dalam video yang beredar, kami melihat terdapat kekerasan yang dilakukan aparat dengan memukul dan menendang suporter yang ada di lapangan.

Ketika situasi suporter makin banyak ke lapangan, justru kemudian aparat melakukan penembakan gas air mata ke tribun yang masih banyak dipenuhi penonton.

Kami menduga bahwa penggunaan kekuatan yang berlebihan (excessive use force) melalui penggunaan gas air mata dan pengendalian masa yang tidak sesuai prosedur menjadi penyebab banyaknya korban jiwa yang berjatuhan.

Halaman:

Editor: Cokie Sutrisno

Sumber: Muhammad Isnur / Habibus Shalihin / Daniel

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Langgar Izin Tinggal, WNA Asal Malaysia Dideportasi

Minggu, 4 Desember 2022 | 14:04 WIB

Pengedar Pil Koplo di Purbalingga Dibekuk Polisi

Rabu, 30 November 2022 | 12:53 WIB
X